Text
Kursi Kekuasaan Jawa
Kursi yang berfungsi sebagai tempat duduk merupakan hasil karya seni, selain itu juga memiliki fungsi sosial yang penuh misteri. Istilah kursi, gambar kursi, dan berbagai elemen visualnya yang estetis itu cenderung diselimuti makna-makna simbolik yang terkadang aneh dan gaib, bahkan dapat dikatakan misterius. Terutama kursi-kursi yang dapat dikategorikan bernilai seni tinggi (adiluhung), seperti Dhampar Kencana, singgasana, atau kursi Presiden. Padahal para penguasa yang menggunakan kursi-kursi itu telah bersentuhan dengan berbagai budaya asing selama ratusan tahun. Kursi di Keraton Yogyakarta, Gedung Agung Yogyakarta, dan Pura Pakualaman Yogyakarta tidak hanya berfungsi sebagai sarana tempat duduk, akan tetapi memiliki fungsi-fungsi simbolik yang penuh makna, disakralkan, adan dimitoskan. Hal ini bertujuan memperkokoh status sosialnya dan memperkuat legitimasi kekuasaannya. Tata cara dan wujud desain kursi para penguasa berorientasi pada gaya kursi para raja Jawa. Hal ini disebabkan tanah Jawa masih dianggap sebagai pusat orientasi para penguasa di Indonesia, khususnya Yogyakarta masih sering diposisikan sebagai pakubumi tanah Jawa bahkan Nusantara. Desain kursi yang digunakan Presiden RI memiliki kemiripan dengan desain kursi para Raja Jawa. Hal ini mengindikasikan bahwa Presiden RI memiliki konsep legitimasi kekuasaan yang sama dengan para Raja Jawa. Keraton dan konsep kekuasaan Jawa masih menjadi pusat orientasi bagi para penguasa di Indonesia. Kursi di Jawa senantiasa disakralkan sebagai alat legitimasi untuk duduk bagi para penguasa. Di Tanah Jawa perebutan kursi merupakan suatu peristwa yang logis, jika dipandang dari sisi legitimasi kekuasaan Jawa.
B04225 | B-Politik KU ED | Tersedia | |
B08092 | B-Politik KU ED | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain