Text
Konflik Antar Elit Politik Lokal dalam Pemilihan Kepala Daerah
Kajian mengenai konflik antar elit politik lokan dalam kajian pemilihan kepala daerah di masa transisi yang mengkaji proses pemilihan kepala daerah di Surabaya, Sampang, Ternate dan Palangkaraya, menggambarkan bahwa di masing-masing lokasi telah terjadi pergeseran politik kekuasaan yang patut dicatat sebagai bagian dari proses reformasi yang sedang berjalan. Meskipun, telah ada pergeseran kekuatan politik, namun belum sepenuhnya terjadi sirkulasi elit dalam arti yang sesungguhnya, di mana kekuasaan masi belum lepas dari pengaruh kekuatan-kekuatan politik lama yang masih "berkuasa" di daerah. Namun demikian, yang pasti, sirkulasi kepentingan mungkin agak berubah, bila di masa lalu hanya terjadi dalam lingkaran kekuatan politik A, B, dan G (ABRI, Birokrasi dal Golkar), tetapi masa transisi kepentingan politiknya sudah tidak lagi demikian, dalam pengertian lain, telah ada pemain-pemain baru yang ikut mempengaruhi proses pemilihan kekuasaan. Catatan Penting lainnya yang patut digarisbawahi, bahwa konflik dalam pemilihan jabatan kepala daerah disebabkan bukan hanya oleh satu faktor, tetapi oleh banyak faktor, meskipun ada faktor yang sifatnya sangat dominan. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik falam pemilihan kepala daerah adalah kepetingan masing-masing elit lokal yang bertarung, kepentingan politik elit nasional, kepentingan pengusaha, maupun kepentingan kekuatan-kekuatan politik lain di daerah. Selain itu, lemahnya konsolidasi demokrasi di masa transisi telah menyebabkan terjadinya salah penafsiran mengenai implementasi UU yang mengatur mengenai pemilihan kepala daerah dan memperlemah institusionalisasi proses demokrasi di tingkat lokal, yang menjadi faktor yang dominan di beberapa lokasi sebagai pemicu timbulnya konflik antar kekuatan politik.
B05513 | B-Politik KO MO | Tersedia | |
B06172 | B-Politik KO MO | Tersedia | |
B08708 | B-Politik KO MO | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain