Text
Palagan Maguwo dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1949)
Sebagai satu satunya pangkalan udara di ibukota Republik Indonesia ketika itu, Pangkalan udara Maguwo memiliki nilai yang sangat penting dan strategis, terutama dalam upaya Belanda menduduki wilayah Republik Indonesia yang tersisa, setidaknya sejak persetujuan Renville di mana wilayah Republik Indonesia yang semakin menyempit.
Pangkalan Udara ini menjadi target utama sebelum militer Belanda menyerbu masuk ke dalam kota Yogyakarta. Hal ini nampaknya sesuai dengan doktrin militer yang berkembang ketika itu, bahkan tampaknya pihak militer Belanda belajar dari strategi militer Jerman ketika melakukan serbuan kilatnya terhadap negara mereka sendiri, Blietzkrieg.
Militer Belanda tampak begitu cermat dan terencana, hanya untuk menyerang pangkalan udara Maguwo. Skema yang disusun mulai dari serangan pembuka, penerjunan dengan pengecohan, penerjunan pasukan para himgga pada dikuasainya pangkalan udara tersebut. Tahapan demi tahapan operasi militer dilaksanakan dengan baik.
Para kadet AURI dan Pasukan Pertahanan Pangkalan AURI yang ada berusaha mempertahankanpangkalan ini mati-matian. Namun karena persenjataan yang begitu terbatas, perlawanan prajurit Angkatan Udara ini tidak begitu berarti untuk menghadang serbuan pasukan Belanda.
Setelah kejatuhan Maguwo, para prajurit AURI tidak serta merta menjadi bungkam. Mereka terus terlibat dalam aksi-aksi perlawanan dan juga dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. Kebanyakan dari mereka bergbung dalam satuan SWK-SWK yang ada. Hingga akhirnya, Maguwo kembali ke dalam kekuasaan AURI pada Juni 1949.
Dengan segala keterbatasannya, Maguwo dan Angkatan Udara berhasil menuliskan cerita perlawanan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia.
B06990 | B-Pendidikan & Kemanusiaan PA DE | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain