Text
Tarikh Thabari:Tarikh al-Umam wa al-Muluk
Kitab yang ditulis seorang sejarawan Muslim asal Persia pada abad ke-9 M, Ibn Jarir Thabari (839-923) ini berisi kronik sejarah para rasul dan raja. Dalam penyebutan lain, kitab ini memang sering juga diberi judul, Táríkhu ‘Rusul wa ‘l Mulúk (Sejarah Para Nabi dan Raja) atau Tárikhu ‘l Umam wa ‘l Mulúk (Sejarah Umat dan Raja). Imam Thabari memulai pembahasannya dengan mengangkat kisah Nabi Adam As. dan mengakhirinya dengan menyajikan peristiwa-peritiwa penting pada masa dia hidup. Sepanjang halaman pada kitab setebal 10 jilid ini, dia mengurai secara rinci fakta-fakta kesejarahan yang terjadi di Timur Tengah sejak dari Nabi Adam hingga abad ke-9 M.
Pada saat tumbuh dewasa, Thabari dihadapkan pada kenyataan carut marut politik Dinasti Abbasiyah yang sedang mengalami masa transisi kepemimpinan berujung konflik bersimbah darah. Setelah kepemimpinan Al-Ma’mun (813-833, selanjutnya periode kepemimpinan ini disingkat “k.”), sinar Abbasiyah yang dikenal dengan gaung intektualisme dan penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan mulai meredup. Perebutan kekuasaan menghancurkan segalanya. Khalifah Al-Mu’tasim (k. 833-842) sebagai pengganti Al-Ma’mun tak mampu meneruskan cita-cita luhur pendirian Baitul Hikmah (sebuah pusat studi keilmuan yang melahirkan banyak filsuf yang pengeruhnya kelak hingga ke daratan Eropa) yang digagas Al-Ma’mun. Demikian juga Al-Mutawakkil (k. 847-861) yang memimpin setelahnya. Yang terjadi justru adalah sebaliknya.
Abbasiyah dilanda duka kebangkrutan peradaban sebab para penguasa lebih mementingkan kepentingan pribadinya daripada membangun basis keumatan dan kebangsaan yang mapan. Pada masa ini doktrin agama di tangan para penguasa sempurna menjadi alat untuk mendukung legitimasi kekuasaan mereka. Salah satu dampak besar dari isu sektarian ini adalah terbunuhnya Al-Mutawakkil di tangan para jenderal Turki yang didukung anaknya sendiri, Al-Muntashir (k. 861-862). Setelah ayahnya terbunuh, Al-Muntashir dengan mulus naik tahta sebagai khalifah didukung faksi Turki. Imam Thabari hidup pada masa transisi ini.
Dalam karyanya itu, dia tak luput membahas kejadian-kejadian malang tersebut untuk dijadikan sebagai pelajaran bagi umat Muslim dan bangsa manapun di dunia. Pada 965 M, yakni 42 tahun setelah wafatnya Imam Thabari, karyanya ini (Táríkh Thabari) diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Abu Ali Al-Bal’ami (w. 996 M), seorang sejarawan yang menjabat sebagai penasehat Daulah Samaniyyah. Pun kelak pada awal abad ke-19, Louis Dubeux (1798-1863), seorang orientalis dari Eropa Barat menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis dan diterbitkan pada 1836. Kemudian Hermann Zotenberg (1836-1894) juga menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis dan pertama kali diterbitkan di Paris pada 1867. Di samping itu, dalam kitab Kasyfi ‘Dhunún, Al-Hajj Khalifah (w. 1068 H) menyebutkan bahwa Táríkh Thabari juga pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Turki.
Táríkh Thabari ini bukan sekadar karya sejarah biasa namun juga bisa dipandang sebagai dokumen sejarah yang dapat dijadikan sebagai bukti historis mengenai dinamika politik dan Islam di masa lalu. Oleh karena itu tak heran bila karya ini dijadikan sebagai rujukan utama bagi para peneliti seperti Heyrettin Yucesoy dengan karyanya, Messianic Beliefs and Imperial Politics in Medieval Islam (2009), Identity Politics in the Middle East (2007) karya Meir Hatina, Islam and Politic (2020) karya Mufti Muhammad Taqi Usmani, A History of the Islamic World, 600-1800: Empire, Dynastic Formations, and Heterogeneities in Pre-Modern Islamic West-Asia (2020) karya Jo Van Steenbergen, dll.
B08958 | B-Pendidikan & Kemanusiaan TA AB | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain