Text
Muqadimah Al-Alamah Ibnu Khaldun
Sebelum metodologi sains ditemukan, sejarah kerap kali disusupi aspek-aspek legenda dan mitos-mitos yang salah satu tujuan utamanya adalah untuk melegitimasi penguasa. Adagium “sejarah milik pemenang” dalam konteks ini sangat relevan. Ibn Khaldun (1332-1406) sebagai seorang sejarawan datang untuk melawan cara penyusunan sejarah semacam itu. Karyanya ini, Muqaddimah (berarti: Pembukaan) adalah pengantar dia untuk kitab besarnya, Al-‘Ibar wa Díw’an al-Mubtada’ wa ‘l-khabar yang juga dikenal dengan Táríkh Ibn Khaldún: sebuah kitab sejarah yang sangat komprehensif dan patuh pada kaidah-kaidah ilmiah.
Meski merupakan kitab pengantar, Muqaddimah lebih terkenal daripada Al-‘Ibar sendiri. Karena di dalam Muqaddimah, Ibn Khaldun menjelaskan setidaknya mengenai tiga hal besar. Pertama, bagaimana sejarah seharusnya dibangun. Kedua, bagaimana sebuah masyarakat dapat maju dan terbelakang. Ketiga, bagaimana proses perubahan suatu masyarakat itu terjadi. Karena itu, kitab ini dianggap sebagai kitab “sosiologi” pertama di dunia sebelum Le Cours de Philosophie Positivistic-nya Auguste Comte (1798-1857). Seorang sejarawan Inggris, Arnold Joseph Toynbee (1889-1975) mengatakan bahwa Muqaddimah Ibn Khaldun ini merupakan karya terbesar di bidang sosiologi sepanjang sejarah. Bahkan Heinrich Simon (1805-1860), politisi kawakan Jerman setelah membaca kitab tersebut menyimpulkan bahwa Ibn Khaldun adalah orang pertama di dunia yang merumuskan hukum-hukum sosial.
Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada paruh kedua abad ke-20 oleh seorang ahli Islam, Franz Rosenthal. Terjemahan Muqaddimah karya Rosenthal ini dicetak menjadi tiga jilid, diterbitkan pada 1958 sebagai bagian dari Bollingen Series dan disebarkan di Amerika Serikat. Tidak sedikit sarjana Barat yang mengagumi karya besar Ibn Khaldun ini. Di dalam dunia pesantren, karya ini menjadi rujukan wajib bagi kalangan santri yang mau mempelajari sejarah.
Ibn Khaldun menulis kitab ini setelah uzlah (menyepi) dari dunia politik. Pada usia muda, antara 20 s/d 45 tahun, dia bekerja di bidang administrasi pemerintahan, berkecimpung dalam dunia politik di Tunisia, Maroko dan bahkan menjadi kepercayaan penguasa di Spanyol. Pada usia 45-53 dia fokus konsentrasi diri menulis buku. Muqaddimah ditulis pada rentan waktu ini. Sisa 24 tahun usianya dia habiskan kelak untuk kembali ke dunia politik menjadi hakim dan guru politik sekaligus. Di masa-masa ini, dia sebarkan gagasan Muqaddimah hingga terkenal ke berbagai penjuru dunia dan bahkan abadi sampai sekarang.
B08962 | B-Pendidikan & Kemanusiaan MU AB | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain