Text
Doorstoot Naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil – Militer
Buku ini mengulas Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 yang mengakibatkan jatuhnya Yogyakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia saat itu. Berbekal arsip, dokumen sejarah, dan kesaksian para pelaku, Julius Pour merekonstruksi jalannya operasi militer Belanda sekaligus menggambarkan situasi politik dan militer yang dihadapi Republik pada salah satu masa paling genting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Fokus utama buku ini adalah perbedaan strategi antara pemimpin sipil dan militer dalam menghadapi agresi Belanda. Soekarno dan para pemimpin sipil memilih tetap berada di Yogyakarta demi memperkuat posisi diplomasi Indonesia di mata dunia, sedangkan Jenderal Soedirman memilih memimpin perang gerilya untuk memastikan perlawanan bersenjata tetap berlangsung. Julius Pour menunjukkan bahwa perbedaan tersebut bukanlah konflik perebutan kekuasaan, melainkan dua pendekatan yang sama-sama bertujuan mempertahankan eksistensi Republik Indonesia.
Melalui pembacaan sejarah yang kritis, buku ini mengajak pembaca memahami pentingnya sinergi antara kepemimpinan sipil dan militer sebagai salah satu fondasi dalam menjaga keutuhan negara dan demokrasi Indonesia.
| B11117 | B-Politik DO JU | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain